The Wealth of Nations (1776) karya Adam Smith bukan sekadar buku ekonomi, melainkan fondasi bagi sistem ekonomi pasar modern. Smith berusaha menjawab mengapa beberapa negara kaya sementara yang lain tetap miskin.
Smith berargumen bahwa kunci utama peningkatan produktivitas adalah pembagian kerja. Dengan membagi tugas besar menjadi bagian-bagian kecil yang spesifik, pekerja menjadi lebih terampil dan efisien.
Contoh Terkenal: Pabrik peniti. Jika satu orang melakukan semua proses, ia mungkin hanya menghasilkan sedikit peniti. Namun, jika dibagi menjadi 18 tugas berbeda, produksi bisa meningkat ribuan persen.
Dampak: Menghemat waktu dan mendorong penemuan mesin-mesin yang mempermudah pekerjaan.
Ini adalah konsep paling ikonik dari Smith. Ia percaya bahwa individu yang mengejar kepentingan pribadi secara tidak sengaja akan menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.
Mekanisme: Seorang pedagang tidak menjual daging karena rasa kasihan, melainkan untuk mencari untung. Namun, untuk mendapat untung, ia harus menyediakan daging berkualitas dengan harga bersaing, yang pada akhirnya memenuhi kebutuhan konsumen.
Kekayaan suatu bangsa tidak diukur dari emas atau perak (merkantilisme), melainkan dari total produksi barang dan jasanya.
Tabungan: Smith menekankan pentingnya menabung untuk diinvestasikan kembali sebagai modal.
Tenaga Kerja Produktif vs. Tidak Produktif: Kekayaan tumbuh jika modal digunakan untuk mempekerjakan tenaga kerja yang menghasilkan barang nyata (manufaktur/pertanian) daripada hanya untuk konsumsi mewah.
Pada masa itu, banyak negara mencoba menimbun emas dengan membatasi impor dan memaksakan ekspor. Smith menentang ini habis-habisan.
Perdagangan Bebas: Ia berargumen bahwa perdagangan internasional menguntungkan kedua belah pihak karena setiap negara bisa fokus pada apa yang mereka hasilkan paling efisien (keunggulan absolut).
Pasar Bebas: Campur tangan pemerintah dalam perdagangan sering kali menciptakan monopoli yang merugikan masyarakat.
Meskipun sering dianggap sebagai pendukung pasar bebas murni (laissez-faire), Smith tetap menetapkan tiga fungsi utama bagi negara:
Pertahanan Nasional: Melindungi masyarakat dari kekerasan dan invasi negara lain.
Keadilan: Melindungi setiap anggota masyarakat dari ketidakadilan atau penindasan oleh orang lain (penegakan hukum).
Infrastruktur Publik: Membangun institusi atau fasilitas umum yang tidak menguntungkan bagi swasta untuk mengelolanya, namun sangat penting bagi masyarakat (seperti jalan raya, jembatan, dan pendidikan dasar).
Dalam buku The Wealth of Nations, Adam Smith merumuskan empat prinsip utama pemungutan pajak yang dikenal sebagai "Four Maxims of Taxation". Prinsip-prinsip ini masih menjadi standar emas dalam desain kebijakan fiskal modern karena menekankan keseimbangan antara hak negara dan kenyamanan pembayar pajak.
Pajak harus dibayar oleh setiap warga negara sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka masing-masing.
Inti Pemikiran: Smith berargumen bahwa subjek dari setiap negara harus berkontribusi pada dukungan pemerintah, sejauh mungkin, sebanding dengan kemampuan mereka; yaitu, sebanding dengan pendapatan yang mereka nikmati di bawah perlindungan negara.
Implikasi: Ini adalah cikal bakal pajak progresif. Semakin besar manfaat dan perlindungan yang diterima seseorang dari negara (biasanya tercermin dari pendapatan), semakin besar pula kontribusi yang diharapkan.
Pajak yang harus dibayar setiap individu harus pasti, dan tidak boleh sewenang-wenang.
Inti Pemikiran: Waktu pembayaran, cara pembayaran, dan jumlah yang harus dibayar harus jelas bagi pembayar pajak maupun orang lain.
Dampak Ketidakpastian: Smith sangat membenci ketidakteraturan. Menurutnya, ketidakpastian pajak mendorong korupsi oleh pemungut pajak dan membuat pembayar pajak merasa terintimidasi atau tidak aman dalam menjalankan usahanya.
Pajak harus dipungut pada waktu dan dengan cara yang paling memudahkan pembayar pajak untuk melunasinya.
Inti Pemikiran: Smith menyarankan agar pajak dipungut pada saat pembayar pajak kemungkinan besar memiliki uang.
Contoh: Pajak atas barang konsumsi dipungut saat barang dibeli, atau pajak sewa tanah dipungut saat petani memanen hasilnya. Hal ini meminimalkan beban psikologis dan finansial bagi rakyat.
Biaya pemungutan pajak harus sekecil mungkin agar sebagian besar uang yang diambil dari rakyat benar-benar masuk ke kas negara.
Inti Pemikiran: Pajak tidak boleh "mengambil atau menjauhkan" dari kantong rakyat jauh lebih banyak daripada yang dimasukkan ke dalam kas negara.
Hambatan Efisiensi: Smith memperingatkan terhadap:
Biaya birokrasi/pegawai pajak yang terlalu besar.
Pajak yang terlalu tinggi sehingga mematikan gairah usaha (yang justru mengurangi pendapatan negara di masa depan).
Hukuman yang sangat berat yang mendorong penyelundupan.